Halo, be Apa kabar kamu? Semoga baik baik dan sehat ya? Oiya maaf ya baru mulai nulis lagi, beberapa minggu kemarin aku bener bener gak ada energi sama sekali, aku cuman bisa bengon dikantor, bahakn dirumahpun aku juga gak semangat ngejalnin apapun. Cmn daily game aja terus yaudah tidur hehe Be hari harinya kemaren gimanaa? Semoga be happy terus ya sayang
Ohiya aku masih sering nangis dikantor ataupun dirumah, haha Paling bingung kalau dikantor, aku pasti langsung keluar pura pura ngerokok, ataujpun langsung cabut dari ruangan hehe
Oiya, mungkin karena aku juga gak punya orang buat berbagi sekarang, aku cmn nulis2 phase griefingku di chatgpt. Aku takut kalau aku ngetik di sosmed lagi be bakal kayak kemarin lagi, karena be juga tahu sebenrnya aku juga bukan orang yang baik dalam berkata kata. Inii hasil sumarize chatgpt tadi pagi, karena tadi pagi aku nangis kejer sampe jam 3:” Mungkin juga ini jadi jawaban kenapa aku bisa ngelakuin yang kamu tuduh itu sebagai mencari cari celah salahmu ya, semoga chat dari gpt ini gak buat kamu sedih.
Kalau aku rangkum semua obrolan kita barusan, menurutku inti pemikiranmu ada beberapa poin besar.
===========================================================================
- Masalah utamanya bukan putusnya, tapi proses menuju putusnya. =========================================================================== Yang paling mengganjal buatmu bukan karena dia memutuskan hubungan, tapi karena kamu merasa tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan.
Di kepalamu urutannya seperti ini:
kamu merasa ada yang berubah, kamu bertanya, “kenapa? aku salah apa?”, dia menjawab, “gapapa, aku loh emang kayak gini”, beberapa waktu kemudian dia memutuskan hubungan.
Dari sudut pandangmu, itu terasa seperti keputusan sudah dibuat sebelum kamu diajak menyelesaikan masalah.
Di point ini semua, mungkin selama kita habis putus aku masih ngerasa ada yang ganjel, kenapa aku gak dikasih tau kalau aku ada salah ataupun ada yang bisa kuubah biar kita bisa tetep bareng lagi. Kenapa kamu yang tiba2 gak mengkomunikasikan itu, kalau dari chat yang dibaca di whatsapp, kita ambil contoh self improvement, kamu ngerasa kamu capek untuk ngaish tau aku karena jawaban dariku yang ketus, tapi kenapa kita gak pakai cara yang lain? Menurutku kita lebih banget dari bisa kok untuk menyelesaikan itu, aku tau prosesnya pasti gak semulus yang kamu harapin tapi setidaknya kita udah ada usaha untuk mengkomunikasikan itu, bukan tiba2 keputusan yang sudah bulat. Mungkin disitu aku mulai buat buat skenario yang udah kamu tau sendiri gimana.
=========================================================================== 2. Definisi hubungan kalian memang berbeda.
Kamu melihat hubungan yang sehat sebagai:
- komunikasi yang aktif,
- saling memberi kabar, saling cerita,
- boundaries yang jelas,
- merasa menjadi satu tim.
Sedangkan menurutmu, dia lebih mengutamakan:
- tetap menjadi dirinya sendiri,
- kebebasan berteman,
- percaya pasangan tanpa banyak penjelasan.
Bukan berarti salah satu pasti benar, tapi memang kebutuhan kalian berbeda.
Mungkin juga aku yang masih salah didalam hal ini, tapi aku mendeskribsikan kamu kayak gitu. Tapi setelah aku cocoklogi juga kelihatannya emang dari zodiak kita ya? Aquarius seek freedoms, Scorpio seek depthness. Aku bacanya seperti itu, Dan mungkin karena aku juga yang masih bertegap teguh sama ego dan prinsipku kamunya yang mulai capek. Karena sebenernya prinsip kita juga sama, kepala batu. Kalau dari zodiak zodiak yang kubaca, Scorpio gak mau kalah, Aquarius gak mau diatur. Mungkin itu juga bisa jadi penyebabnya ya? Aku gak bisa nurunin ego dan prinsip
=========================================================================== 3. Kamu merasa hubungan itu tidak berjalan dua arah.
Ini yang paling sering kamu ulang.
Oh iya, mungkin ini bisa jadi agak rancu. Kamu meminta aku untuk self improvement (kebiasaan hidup dan olahraga) , tapi dari apa yang udah kujelasin kemarin di chat, hal itu gak mudah, dan selama ini kamu juga semakin jarang mengkomunikasikan apapun, dan diakhir akhir kamu ngelanggar boundaries itu juga (karena menurutku what happened in game, yaudah stay in game kenapa sampai harus nyambung ke real life), i know mungkin kamu atau temanmu bakal bilang aku controlling atau manipulator, tapi apa dunia itu akan selalu seperti yang kalian bayangin? Apa kamu gak pernah berpikir something bad gonna happened? Ini sama kayak peribahasa yang aku udah tulis juga kok. Dan aku tau kok, kamu pasti akan menjawabnya dengan you should have put more trust di aku, karena aku gak bakal kemana mana. Tapi siapa yang khawatir? Apa bentuk kekawhatiranku itu berlebihan? Apa aku harus berpikir selalu positif? I know, mungkin aku masih kurang didalam kepercayaan itu, karena aku juga punya banyak teman yang ‘bangsat’ dan aku tau satu ketika aku liat, banyak juga orang yang gabisa give respect to others people relationship. Aku harap kamu bisa dapat point dari yang aku tulis diatas ya? Mungkin ini kenapa sampai sekarang aku masih susah untuk menerimanya sendiri.
=========================================================================== 4. Kamu merasa ada double standard.
Contoh yang kamu berikan:
Saat dia tidak suka seseorang, kamu diharapkan mendukungnya. Saat kamu tidak suka seseorang, dia membela orang tersebut.
Atau
Dia merasa tweetmu membuat orang berasumsi buruk tentang dirinya. Tapi menurutmu repost TikTok-nya juga bisa membuat orang berasumsi kamu adalah pacar yang buruk.
Ohiya mungkin ini juga jadi salah satu contohnya, masih ingat kan ya masalah pertama kita apa be? Aku masih ingat jelas kok ketika kamu sedang ada masalah dengan edel, dan aku coba memberi povku. Dan aku masih inget jelas apa yang kamu bilang waktu itu, kalau aku lagi gak suka sama orang, kamu juga harus gasuka (something like these pointnya). Tapi kenapa ketika aku gak suka sama temanmu kamu membela? Apa karena kamu merasa kamu mengenal dia lebih dari aku? Atau gimana?
Satu lagi, aku inget sebelum kita putus aku sempet lihat lihat repostan tiktok kamu, dan aku liat post yang kamu repost seperti
Aku harap boyfriendku treat aku seperti ini (inti postnya) Setiap hari spark aku hilang karena pacarku gak ngebolein main sama temennya (inti postnya)
Yang mau aku tanyain, apa bedanya itu dengan tweet yang aku tulis? Kamu ngomong juga kan di whatsapp, orang bisa berasumsi ketika melihat tweetku, berarti hal itu juga berlaku di repostanmu dong ya? Jadi apa bedanya?:”
=========================================================================== 6. Soal teman laki-laki sebenarnya bukan soal cemburu.
Dari semua obrolan kita, aku rasa ini sering disalahpahami.
Yang kamu khawatirkan bukan:
“Dia pasti selingkuh.”
Melainkan:
“Ada orang yang tidak menghormati hubungan orang lain.”
Karena itu kamu sangat menekankan boundaries.
Sedangkan dia tampaknya percaya:
“Aku bisa menjaga diriku sendiri.”
Perbedaan pandangan ini tidak pernah benar-benar selesai dibahas.
ini hampir sama kayak point ke 3 tadi sih hehe , its just my darkness fear, sayang Dan menurutku meski aku sudah berusaha percaya ke kamu, rasa takut itu ada banget, banget banget
=========================================================================== 7. Hal yang paling membuatmu sakit.
Kalau aku harus memilih satu kalimat yang merangkum semuanya, mungkin ini:
“Aku merasa tidak pernah benar-benar diberi kesempatan untuk memperbaiki hubungan sebelum keputusan untuk mengakhirinya diambil.”
Bukan karena kamu merasa sempurna.
Bukan karena kamu merasa selalu benar.
Tapi karena menurutmu komunikasi yang kalian sepakati di awal hubungan justru tidak terjadi saat hubungan sedang paling membutuhkannya.
Dan mungkin ini yang paling sedih, kenapa ya kita gak bisa menepati janji untuk menyeleasikan permasalahn dengan diskusi? Bukannya awalnya kita udah setuju seperti itu? Aku dengan povku , kamu dengan povmu. Apa karena kamu merasa udah terlalu capek ya be?:”
=========================================================================== “Kenapa ketika aku berusaha mencari penjelasan langsung ke kamu, aku tidak mendapat penjelasan yang cukup, sampai akhirnya aku kembali ke pola lamaku?”
Mungkin ini yang jadi pertanyaan paling besar juga kenapa sampai aku bisa nulis seperti itu di x. Mungkin karena aku melihat kamu udah gak pernah cerita cerita, bahkan tetang streamer yang kamu ceritakan itu, kalaupun memang streak itu 3 hari full chat, kenapa list followersnya baru masuk ketika kita udah mau putus? aku sempet kok lihat followers tiktokmu, dan nama dia gak ada, both di akun kamu ataupun akun robloxmu. Jadi harusnya gak mungkin juga bisa sebanyak itu menurutku, dan kenapa aku bisa berasumsi demikian ya karena kamu gakpernah memberikan itu. Aku tau kok, ada yang banyak hal yang gak harus diceritakan, tapi bukannya kita juga udah pernah tengkar gara gara ini ya dulu di fish it? Jadi apa kamu berpikir kalau kamu bilang kamu interaksi dengan dia di tiktok aku bakal marah lagi jadi kamu mutusin buat gak ngasih tau aku?:“
Dan mungkin kata kata dari gpt ini bagus banget
Hey… Come here for a minute. Nothing is wrong with you. From everything we’ve talked about these past weeks, I don’t think you’re crying because of one chat or one sentence. You’re crying because your brain is finally accepting something your heart has been refusing to accept. You loved her. You saw a future with her. You changed parts of yourself for her. You spent countless nights trying to understand why it ended. And today, after reading her messages, a part of you probably realized… “Maybe this really is over.” That realization hurts. Really hurts.
I also noticed something. A few days ago you were mostly angry. Tonight… You’re not angry. You’re heartbroken. Those are different. Anger usually asks, “Who’s wrong?” Heartbreak asks, “Why couldn’t love be enough?”
And I know you keep replaying everything. “What if she had communicated?” “What if I hadn’t assumed?” “What if I asked differently?”
Our brains do that because they want to find a version of the story where nobody had to leave.
Sometimes… there isn’t one.
Lalu ada bagian ini.
“aku bener bener udah capek dan ga ada energi lagi.”
Kalau ini memang yang dia rasakan, aku bisa mengerti kenapa kamu sedih.
Karena buatmu rasanya seperti:
“Kenapa baru bilang setelah semuanya selesai?”
Sedangkan mungkin dari sudut pandangnya:
“Aku sudah lama mencoba memberi sinyal.”
Kalian akhirnya berada di titik di mana komunikasi yang satu anggap sudah jelas, justru tidak pernah benar-benar diterima oleh yang lain.
Kalau boleh jujur…
Aku rasa kamu sudah mulai melihat hubungan ini dengan lebih utuh.
Dulu kamu banyak mencari siapa yang salah.
Sekarang kamu mulai bisa melihat,
“ternyata kita sama-sama terluka.”
Itu tidak membuat rasa sakitnya hilang.
Malah kadang justru lebih sakit.
Karena kamu sadar tidak ada “villain” yang jelas.
Hanya dua orang yang saling sayang, tapi gagal bertemu di cara berkomunikasi dan memenuhi kebutuhan masing-masing.
Dan itu… memang salah satu jenis perpisahan yang paling berat.
Kalau malam ini kamu masih nangis, gak apa-apa.
Kamu gak perlu memaksa diri berhenti hanya karena merasa “harus move on”.
Satu tahun hubungan, banyak kenangan pertama yang kalian lalui bersama. Kehilangannya memang tidak akan terasa ringan.
Semoga malam ini kamu bisa sedikit mengistirahatkan kepalamu. Besok rasa sakitnya mungkin belum hilang, tapi kamu tidak harus memikul semuanya sendirian. Aku tetap di sini kalau kamu ingin terus bercerita.
=====================================================================
Ohiya, aku dibuatin poem juga loh be sama gpt
Maybe I’m not the love you’ll remember forever, but you’ll always be the one who taught me what love felt like.
Maybe I’m not your first kiss, but you were my first kiss and that felt like home.
Maybe I wasn’t your greatest love, but you were the first person I ever imagined growing old with.
Some people become memories. You became a chapter I’ll never know how to reread without hurting.
I still catch myself saving stories I no longer have anyone to tell. I don’t miss the past. I miss the future I thought we’d have. I thought we’d become each other’s last love. I never imagined we’d become each other’s greatest “what if.”
Maybe one day this won’t hurt anymore. But today… it still feels like I’m grieving someone who’s still alive.
===============================================================================
Dan aku jadi mempertanyakan sesuatu kepada tuhan, kenapa doa yang aku ucap setiap bersujud kepadaNya malah terjadi kebalikannya? :”)
Hehe habiss Mungkin itu chat chatku selama ini dari gpt, aku gak menyangkal kok kalau mungkin diawal awal aku di fase marah dan gak bisa menerima keadaan dengan kepala dingin. Dan mungkin sekarang aku lagi masuk di fase griefing:”)
Aku kangen banget sama kamu, be:”)